TURINO ADI IRAWAN
SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 4 JAMBI
Eksitensi iklan dan baleho himbauan pencegahan terhadap korupsi
Korupsi masih menjadi pembicaraan hangat dinegara Indonesia ini, upaya–upaya untuk menanggulangi korupsi terus dilakukan oleh pemerintah bersama badan dan atau lembaga anti korupsi. Korupsi yang diambil dari bahasa Latin: corruptio dari kata kerja corrumpere = busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok ini menjadi permasalahan utama yang ingin di selesaikan di pemerintahan saat ini. Namun permasalahan korupsi ini sama halnya dengan narkoba yang telah banyak upaya yang dilakukan untuk memberantasnya tapi masih ada saja yang melakukannnya. Iklan anti korupsi pun telah banyak disebar di Negara ini. Iklan merupakan media untuk mendorong, membujuk khalayak ramai agar tertarik pada barang dan jasa yang ditawarkan, selain itu iklan juga berupa pemberitahuan kepada khalayak mengenai barang dan jasa yang dijual, dipasang di media massa seperti koran dan majalah, atau di tempat-tempat umum (kamus besar bahasa indonesia) sedangkan iklan korupsi berarti media untuk mendorong dan membujuk khalayak ramai untuk mencegah korupsi serta pemberitahuan akibat dan hukuman untuk pelaku korupsi. Baleho sendiri merupakan papan iklan yang biasanya di pasang di pinggir jalan utama.
Iklan dan baleho yang berisi himbauan untuk mencegah korupsi merupakan salah satu solusi untuk menekan angka pertumbuhan koruptor di Indonesia. Iklan dan baleho ini menjadi media singkat untuk menjelaskan betapa kita harus menghindari korupsi, daripada membaca sebuah buku anti korupsi atau literatur mengenai korupsi yang memerlukan waktu lama dan pemahaman yang lama pula. Bahasa pada iklan dan baleho biasanya mudah dipahami oleh masyarakat dan dikemas secara menarik. Iklan dan baleho bisa saja menghantui para koruptor karena keberadaanya diberbagai tempat seperti jalan utama, di tempat papan pengumuman atau mading, TV, surat kabar, maupun radio.
Untuk dapat mempengaruhi pembaca atau pendengar iklan maka pembuat iklan harus bisa membuat kalimat yang singkat tapi tepat sasaran tidak banyak mengundang pertannyaan. Menurut saya, isi dari iklan atau baleho yang berisi himbauan untuk mencegah korupsi masih tanggung dan kurang berani. Para koruptor sepertinya masih bisa memejamkan matanya atau menutup telinganya menanggapi iklan dan baleho tersebut, contohnya : jauhi korupsi, katakan tidak pada korusi, jangan jadi tikus berdasi, jangan ambil hak rakyat, dll. Selain kalimat biasanya pada iklan dan baleho didukung oleh gambar contohnya tikus berdasi sambil menggigit uang, gambar penderitaan rakyat akibat korupsi, dll. Dari contoh dan gambar tadi menurut saya seharusnya diubah menjadi gambar yang mebuat pembaca teriang-iang.
Menurut saya, Bagaimana kalau foto tikus berdasi, kepalanya diganti dengan kepala orang-orang yang melakukan korupsi ?. Sepertinya itu lebih memberikan efek jera pada para koruptor. Jika isi kalimat dan gambar iklan dan baleho saja sudah memberi rasa takut maka tinggal hukuman yang berat untuk menambah rasa takutnya sehingga kephobiaan terhadap korupsi bisa timbul. Orang yang sudah phobia biasanya timbul sedikit masalah yang menjurus ke arah sana maka ia akan berusaha menghindarinya. Itulah kembali lagi ke iklan dan balehonya jangan sampai jadi si penegur yang menganggur, sudah menegur “hey jangan lakukan korupsi itu dosa” ya kalau berbicara dengan orang yang memiliki iman yang kuat maka ia akan mengiakan tapi kalau dengan orang yang tidak beriman mungkin itu hanya jadi angin lalu bahkan berpikir yah sekarang cari enaknya saja dulu paling kalau ketahuan didenda dan dipenjara keluar dari penjara hidup dari awal lagi atau mengulangi lagi, padahal Allah S.W.T telah berfirman dalam Al-quran : dan janganlah kamu memamakan harta orang lain dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian dari pada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui(QS Al-baqarah/2:188). Ayat itu selain menjelaskan larangan korupsi juga larangan untuk orang yang menutupi dan ikut merasakan hasil korupsi.

Seandainya gambar kepala koruptor berbadan tikus dipampang menjadi iklan selama ia dipenjara, maka masyarakat akan tau kalau itu adalah seorang penghianat publik atau koruptor. Apakah dengan iklan seperti tadi bisa menghambat untuk memberikan kesempatan kedua? Apakah semua kesalahan harus diberikan kesempatan kedua? Apa publik tidak beropini lain? Apakah koruptor harus diberi toleransi? Apa jadinya kalau korupsi diberi toleransi? Menurut saya negeri kita tercinta ini bukan memberi kemudahan pada koruptor tapi banyak asas yang harus dipertimbangkan.
Iklan dan baleho mempengaruhi laju penekanan terhadap tindakan korupsi. Tapi yang lebih menentukan seandainya ada kesinambungan antara pemerintah, lembaga, aturan ,hukum dan iklan atau baleho, penyuluhan, berjalan bersama dan lebih berani. Namun belum tentu korupsi itu bisa diberantas sampai sebersihnya kalau pola kehidupan masyarakat banyak mendekati kesana dan tingkat keimanan seseorang menurun. Apalagi kalau dikaitkan dengan penggambaran ada 7 tiang tapi tinggal satu yang belum roboh pastinya yang satu tadi ikut retak dan atau roboh, sama dengan halnya di negara kita dimana banyak orang yang melakukan korupsi sehingga beberapa orang yang belum korupsi akan goyah jika tidak di imbangi dengan iman yang kuat dan yang banyak tadi tidak ditegakan atau diperbaiki kembali.
Kita jangan terfokus kepada korupsi keuangan saja karena korupsi waktu, korupsi cinta, korupsi fasilitas, korupsi janji, korupsi timbangan dan kualitas produk yang ikut merugikan dan bahkan lebih menyakitkan. Dalam islam sendiri korupsi telah dapat disamakan dengan kekafiran. Kafir selama ini ditujukan bagi mereka yang dianggap menyimpang dari ajaran agama. Padahal Alquran sendiri menyebutkan kafir dalam wujud, misalnya, pendusta atau mendustakan agama (yukadzibu bi al-Din) tak dinisbatkan pada mereka para penyimpang agama dalam pengertian seperti selama ini dipahami, tetapi kepada mereka yang menghardik anak yatim, tak memberi makan pada kaum miskin, enggan menolong dengan kekayaan yang mereka miliki, atau dalam pengertian kepada mereka yang selama ini sering menyelewengkan kekayaan negara (QS Al-ma’un/107:1-7). Iklan itu mudah mempengaruhi pemikiran seseorang, jadi jangan sampai iklan menjadi penghias saja bahkan menjadi ladang korupsi terbaru sehingga iklan tadi justru memperbanyak koruptor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar