SELAMAT DATANG DI blog ( rino_blitz92.blogspot.com)

.....semoga dapat bermanfaat untuk kita semua....

Jumat, 13 Maret 2009

gubuk pemberi senyuman

Gubuk pemberi senyuman

Julia adalah seorang gadis kota yang sedang berlibur didesa bersama teman-temannya. Julia dan teman-temanya menginap dirumah paman teman Julia. Julia berpamitan pada teman-temanya karena ia ingin jalan-jalan keliling desa sendiran. Sore itu matahari tak tampak wujudnya karena tertutupi awan, yang membuat langkah Julia semakin mudah untuk terus melanjutkan langkahnya karena cuaca tak begitu panas. Selama perjalanan tak sedikit pun Julia mendengar suara kendaraan yang ada hanyalah suara-suara dari nyanyian ayunan pohon dan gemircik air serta siulan-siulan burung yang bersatu menjadi irama pengiring perjalaan Julia berkeliling desa,. Pemandangan pohon hijau selalu tampak dimata Julia dan udara segar selalu terhirup dihidungnya. Dalam hati Julia berkata “ sedetik saja aku berada didesa ini , segala penat beban pikiranku akan hilang” . Julia terus berjalan menikmati paronama alam desa yang asri dan indah. ”Ternyata alam disini sama seperti alam didesaku tempat aku dilahirkan dan dibesarkan dulu” kata Julia berbicara sendiri. Julia memng gadis kota tapi ia dilahierkan disebuah desa yang jauh dari keramaian kota dan barulah umur sembilan tahun Julia dibawa orang tuanya ke kota.
Julia terus berjalan sambil matanya melihat apa saja yang ada disekitarnya. Langkah Julia terhenti didepan gubuk yang sepertinya telah lama dibangun. Julia menatapi gubuk tersebut, dan melangkahkan kakinya pelan. Mata Julia berkedip-kedip dan air matanya mengalir tak terbendung membasahi wajahnya yang cantik. Ia teringat kehidupan nya sewaktu masih tinggal digubuk yang sama bentuknya dengan gubuk yang ada dihadapannya ini. Julia menangis teringat kehidupannya digubuk tapi yang penuh kebahagiaan. Julia menangis hingga bibirnya yang indah bergetar, bahkan seluruh tubuhnya ikut bergetar dikala Julia teringat pula dengan nasib keluarganya yang diambang kehancuran. Dalam tangisnya Julia bergerutu ”ya allah mengapa kau berikan aku kekayaan yang justru mengawali kehancuran ? mengapa tak kau biarkan aku dan keluarga ku tetap hidup di gubuk ? mengapa? mengapa kau beri aku kehidupan dikota yang ternyata keluarga ku belum siap mengahadapinya. Hidup yang penuh kemewahan dan kecanggihan, namun keluraga ku tak bahaiga?. Tangis Julia tak henti bahkan ia sampai terduduk didepan halaman gubuk tersebut, ia menatapi kursi yang terletak didepan gubuk itu yang sama percis seprti digubuknya dulu, dimana ia melihat ibunya yang selalu memberikan secangkir kopi dan goreng ubi dikala ayahna pulang bekerja , bukan seperti saat ini tinggal dirumah mewah tapi selalu melihat ayah dan ibu yang selalu meributkan soal wanita dan harta.
Tiba-tiba pintu gubuk itu perlahan terbuka. Mata Julia tertuju pada pintu itu, Julia melihat sesosok wanita berambut putih dan bertongkat keluar dari gubuk. Ternyata mendengar suara tangisan didepan gubuknya , nek asih pemilik gubuk tersebut keluar dari gubuknya,. Dengan tubuh membungkuk dan dibantu dengan tongkatnya ,nek asih mengahampiri Julia. Ia menajak Julia untuk tegak dan masuk ke gubuknya karena hari mau hujan. Sambil mengusap –usap matanya dan membersihkan roknya dari debu, Julia berjalan masuk ke gubuk nek asih. “Siapa namamu dan dari mana asalmu cu?” Kata nek asih. “Namaku Julia dan aku dari kota , aku datang kesini tuk berkibur bersama temen-teman ku”jawab julia. Ada apa cu? Mengapa tadi kau menangis begitu histeris sampai napasmu terengah-engah seperti ini?,. Tanya nek Asih. ”waktu aku melihat gubuk ini, aku teringat dengan kehidupanku waktu tingglal digubuk dulu nek”jawab Julia. “ dulu aku hidup bahagia bersama keluarga ku digubuk didesa tapi kini ku tinggal dikota penuh kemewahan tapi keluarga ku berantakan n ek. Jelas Julia sambil menangis kembali” tuk apa aku diberi kekayaan tapi hati tak senang nek, untuk apa nek? Aku justru ingin sekali dikembalikan ke kehidupanku yang tinggal digubuk didesa dulu. Nek asih paham betul dengan apa yang dialami oleh Julia. Nek asih membuatkan secangkir teh hangat untuk Julia, aroma teh yang segar dan hangatnya teh yang mengalir didalam tubuh Julia, membuat Julia menjadi tenang. Melihat Julia tenang nek Asih pun berbicara” kau tak boleh mengeluh Julia, seharusnya kau bersyukur tuhan telah memberikanmu reski yang berlimpah tak lagi hidup susah di gubuk didesa dulu. “tapi nek”celetuk Julia. ”Tidak ada tapi sekarang ini kamu harus mensyukuri nikmat yang telah diberikan,”. “Sekarang tinggal bagaimana cara kamu ngebawa dirikamu tuk menghadapi masalah keluargamu”. “Sekarang kamu harus tingkatkan amal ibadah kamu Julia, banyaklah berdoa, mohon pada Allah agar keluarga mu kembali kejalannya dan dapat hidup bahagia”. “Insyaallah dengan keyakinan yang mantap ,dengan imanmu yang mantap dan usahamu yang keras maka keluargamu akan mendapat hidayah dan ridha nya”.
Mendengar nasihat nek asih hati Julia lebih tenang . Julia dapat tersenyum, senyuman lebar tanpa beban. Julia baru mendapatkan senyumanya kembali yang selama ini telah hilang direngut kekayaan yang membutakan. Julia meminta izin pada nenek asih untuk menginap dirumah nek asih. Julia masih ingin bercerita dan mendengar nasihat nenek lebih banyak lagi dan Julia ingin menikmati tidur di gubuk yang selama ini telah lama tak ia lakukan. Nek asih mengizinkan Julia tuk menginap digubuknya. Julia langsung memeluk nek asih dan nek asih membalas. Julia bergegas memberitahuikan teman-temannya bahwa ia akan tidur digubuk nek asih malam ini. Malam pun tiba hanya diterangi lampu dinding dari minyak tanah gubuk nek asih terterangi. Semakin malam cuaca di desa semakin dingin. Nek asih mengajak Julia untuk menghangatkan diri didepan bara api sembari mengisi perut yang telah keroncongan. Julia merrasakan betapa senangnya hidup disini meski sederhana tapi mendapat kasih sayang yang tulus dari nek asih sama seperti orangtuanya dulu saat masih tinggal didesa. Tapi Julia tak boleh lagi mengeluh keadaannya ,sekarang ia harus bangkit tuk menyelamatkan keluarganya dan harus lebih rajin beribadah. Malam pun semakin larut Julia tertidur pulas bersama mimpi-mimpinya. Pelajaran besar banyak didapatnya hari ini.

sekian



cerpen ini ku tulis waktu dapat tugas dari guru bahasa indonesia dalam kelas menulis..di SMAN 4 kota jambi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar